Connect with us

Kabar Sumsel

Warga Tuntut Bayar Kompensasi Pembebasan Lahan

Published

on

TUNTUT : Sejumlah warga pauh melakukan aksi pemortalan jalan masuk perusahaan

REL, Muratara – Puluhan warga Desa Pauh, Kecamatan Rawas Ilir, Kabupaten Muratara, lakukan aksi protes masalah pembebasan lahan yang dilakukan perusahaan Sawit Sumatera Lestari (PT SSL).

Sejumlah lahan milik warga sudah dilakukan land clearing sejak satu tahun lalu, namun hingga saat ini warga mengaku belum mendapat kompensasi ganti rugi dari perusahaan.

Amron (48) Warga Dusun III Pauh, Kecamatan Rawas Ilir, Kabupaten Muratara,‎ menuturkan, awalnya lahan miliknya berjumlah 60 hektar. Sejak dua tahun terakhir perusahaan PT SSL datang dan hendak membeli lahan milik warga. Perusahaan menawarkan, kompensasi pinjaman sebesar 30 persen, jika lahan warga mau dilakukan land clearing terlebih dulu.

“Lahan saya sudah di LC, sudah satu tahun sampai sekarang belum ada satu peser pun uang saya terima dari perusahaan,” katanya, kemarin (17/7).‎ Pihaknya mengaku cukup bingung, karena sampai saat ini permasalahan warga dengan pihak perusahaan tak kunjung tuntas.

“Kami tidak tahu mau ngadu ke mana, karena pemerintah dengan perusahaan saling lempar tanggung jawab. Kami butuh kejelasan, bagaimana transaksi jual beli lahan itu, karena masyarakat juga butuh uang,” ucapnya.

Untuk menuntut kejelasan ganti rugi lahan, sejumlah warga sempat memasang portal dari kayu di lahan milik mereka yang digunakan oleh pihak perusahaan sebagai jalan keluar masuk kendaraan berat. Warga menolak, operator serta alat berat miliki Perusahaan untuk masuk ke lahan milik mereka, sembari menuntut kejelasan ganti rugi.

“Kami pasang portal di lahan milik kami sendiri, supaya perusahaan menghentikan pembukaan lahan yang mereka lakukan. Portalnya tetap dipasang, hingga masalah ganti rugi ini tuntas dulu,” ujarnya.

Sementara itu, Ardat koordinator warga pemilik lahan mengatakan, pihaknya sudah melakukan koordinasi secara langsung ke pemerintah Desa maupun ke pihak perusahaan mengenai permasalahan itu.‎Namun hingga saat ini, belum ada titik terang,” Kito sempat nanyo tapi di lempar kesana kemari, katanya tanya ke kades, tanya perusahaan. Karena itu kami bingung, mau kemana lagi,” ucapnya.

Pihaknya berharap permasalahan itu segera tuntas, sehingga masyarakat tidak bimbang mengenai status lahan milik mereka.

“Harapan kami segera dituntaskan, biar masyarakat tidak bingung,” harapnya.

Sementara itu, Camat Rawas Ilir Suharto saat dikonfirmasi mengenai masalah itu mengatakan.Pihaknya belum mengetahui secara pasti permasalahan yang dihadapi oleh warga Desa Pauh, Kecamatan Rawas Ilir. Karena masalah itu bisa ditangani oleh Pemerintah Desa.

“Tapi kalau masyarakat mau mengadu ke pihak kecamatan, tentunya bisa juga kami fasilitasi. Kita bisa menengahi dengan cara memanggil warga yang belum mendapat kompensasi dan pihak perusahaan,” katanya

Menurutnya tidak menutup kemungkinan, jika adminitrasi kepemilikan lahan masyarakat tidak bermasalah. Kemungkinan hanya menunggu waktu untuk mendapatkan kompensasi itu.

“Bisa saja begitu ada kendala teknis, atau menunggu waktu. Sebaiknya kami sarankan masyarakat buat pengaduan resmi ke pihak kami, nanti bisa kami fasilitasi,” pungkasnya .(16)

Kabar Sumsel

448 Personil Polisi Mulai Divaksin

Published

on

Caption : Salah satu personil mapolres Empat Lawang saat divaksin

REL,Empat Lawang – Personil Polisi Resort (Polres) Kabupaten Empat Lawang secara bertahap divaksinisasi di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tebing Tinggi, hari ini (4/3)

Tim Faskir (Fasilitator) RSUD Empat Lawang Ida Melisa mengatakan sebanyak 448 personil Polres Kabupaten Empat Lawang, menjadi sasaran pemberian vaksin covid 19.(Pad).

Baca Selengkapnya

Kabar Sumsel

PC PMII Pagar Alam Berikan Bantuan ke Pada Penderita Tumor

Published

on

Caption : PC PMII Pagar Alam berpose bersama seusai memberikan bantuan

REL,PAGARALAM – Pengurus Cabang (PC) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kota Pagaralam melakukan penggalangan dana untuk membantu ibu Emilia Susanti, penderita penyakit tumor dalam usus yang bertempat tinggal di Desa Nusa Indah, Rt 03 Rw 04, Kelurahan Tebat Giri Indah, Kecamatan Pagar Alam Selatan, Kota Pagaralam, Jum’at (19/02).

Ketua PC PMII Kota Pagar Alam Anwar melalui Sekretaris PC PMII Pagar Alam Wahyu Al Ichsan S,Psi mengatakan, alhamdulillah kita hari ini sudah melakukan penggalangan dana sekaligus sudah memberikan bantuan, dengan adanya bantuan ini kami berharap bisa meringankan beban Ibu Emilia, “semoga beliau diberikan kekuatan dan kesabaran untuk menjalaninya,” tutur Wahyu.

“Ibu Emilia ini mempunyai anak 3 dan masih sekolah semua, suaminya sekarang sedang mengalami depresi,” jelas Wahyu.

Serta, lanjut Wahyu, kami ucapkan terimakasih kepada masyarakat kota Pagar Alam yang telah menitipkan bantuannya kepada kami untuk disalurkan kepada beliau.

Wahyu juga menjelaskan penggalangan dana ini baru dilaksanakan tadi pagi, dan alhamdulillah dana yang terkumpul mencapai Rp, 1.300.000 sudah kami serahkan kepada beliau.

“Saya ucapkan ribuan terimakasih kepada adik-adik mahasiswa PMII kota Pagar Alam yang telah membantu. Semoga apa yang telah adik-adik lakukan hari ini akan diberikan pahala oleh Allah swt,”pungkasnya.

Sementara itu, penderita penyakit tumor mengatakan, terimakasih kepada adik-adik PC PMII Kota Pagar Alam yang telah membantu dengan cara menggalang dana, “semoga apa yang dilakukan adik-adik sekalian akan mendapatkan imbalanya di syurga nanti,” pungkasnya.(*)

Baca Selengkapnya

Empat Lawang

Jika Ada Jual Beli Dan Perburuan Hewan Langka Bisa di OTT

Published

on

Caption : Kanit Pidana Khusus (Pidsus) Reskrim Polres Kota Pagar Alam Ipda Eka Herli saat berpose bersama

REL,Pagaralam – Polres Pagar Alam mengungkap bahwa hingga saat ini belum ada laporan ataupun temuan adanya kasus perdangangan (jual-beli) hewan langka atau hewan yang dilindungi di wilayah hukum Kota Pagar Alam.

Hal ini diungkapkan Kanit Pidana Khusus (Pidsus) Reskrim Polres Kota Pagar Alam Ipda Eka Herli ketika dikonfirmasi, Jum’at (18/2).

Dirinya tak menampik, jika memang ada beberapa jenis hewan langka yang dulunya sempat booming lantaran memiliki harga jual yang cukup tinggi sehingga memicu terjadinya perburuan liar terhadap jenis hewan-hewan yang dilindungi tersebut.

“Contohnya teringgiling,yang dulu kulitnya sampai berharga jutaan rupiah,” tuturnya.

Namun, lanjut Eka, pihakanya belum menemukan atau menerima laporan adanya aksi jual beli segala macam hewan langka ini, dan kalaupun ada,jelas ada Undang-undang yang mengatur serta ada sanksi pidana baik itu penjual maupun penadah atau pembeli.

Eka juga menjelaskan, sebenarnya yang berkompeten dalam hal ini adalah Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA), karena Polres hanya menindak jika ada laporan, namun bisa menindak langsung jika kedapatan melakukan jual beli hewan langka tersebut.

“Artinya kita bisa menindak tanpa harus ada delik aduan jika memang itu ada di wilayah hukum Kota Pagar Alam,” cetusnya.

Dikatakanya, begitu juga dengan hewan langka yang dirumahkan atau dipelihara,harus mengantongi izin dari BKSDA dan izin itu juga diteruskan ke Polres Pagar Alam.

“Jadi kalau hewan itu sudah ada izin dari pihak yang berkompeten ada semacam sertifikat yang dipegang oleh pemilik atau pemelihara,”ujarnya.

Sementara Kepala UPTD KPH X Dempo Heryy Mulyono menambahkan, apapun namanya hewan atau binatang yang ada didalam kawasan hutan lindung (Hutlin) semuanya termasuk hewan yang dilindungi.

Sehingga, lanjut Herry, jika terjadi adanya perburuan didalam kawasan hutlin mau itu burung atau sejenis lainya tetap tidak diperkenankan sesuai dengan Undang-undang BKSD nomor 5 tahun 1990 tentang Sumber Daya Hayati dan Ekosistemnya.

“Dan kita bisa melakukan Operasi Tangkap Tangan (OTT) jika memang ada yang kedapatan melakukan perburuan didalan kawasan Hutlin,” jelas Hery.

Lebih jelas Herry, untuk itu mengantisipasi terjadinya perdagangan bebas hewan-hewan dilindungi ini, pihaknya selalu memaksimalkan personel seperti Polisi Hutan (Polhut) untuk mencegah adanya aksi perburuan di hutan lindung termasuk dititik rawan terjadinya aksi perburuan seperti di kawasan kampung IV Gunung Dempo.

“Kalau memang ada dan tidak bisa lagi diberikan teguran maka kita bisa menindak langsung sesuai dengan SOP,”pungkas Herry

Sementara Ketua LSM Jaga Rawat Lingkungan (Jaring) Jefriadi mengatakan, bahwa mendukung sepenuhnya pihak berkompeten untuk menindak siapa saja yang kedapatan melakukan perburuan atau sampai memperjual belikan hewan-hewan yang dilindungi sesusai dengan UU.

“Hal ini tak lain untuk tetap menjaga ekosistem hutan, khususnya Kota Pagar Alam yang 80 persen adalah kawsan hutan lindung,”pungkasnya.(*)

Baca Selengkapnya

Trending