oleh

Tegaskan Tidak Ada Kecurangan dalam PPDB

REL, Empat Lawang – Salah seorang wali murid mengeluhkan adanya kecurangan dalam Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) tahun ajaran 2018/2019 di SD Negeri 1 Tebing Tinggi.

Heni Gustian, selaku wali murid mengungkapkan kekecewaannya atas ketidak lulusan anaknya menjadi peserta didik baru di SD Negeri 1 Tebing Tinggi yang pengumumannya dilaksankan pada hari Kamis 31 Mei 2018.

“Anak saya umurnya sudah 6 tahun, terus rumah dekat dengan lokasi sekolah, anak saya juga tamatan TK tapi kenapa bisa sampai tetap tidak diterima, padahal sudah mencukupi persyaratan,” ungkapnya pada REL, Senin (4/6).

Ditambahkannya, uang seragam yang awalnya diterima dikembalikan lagi bersama berkas dan dinyatakan bahwa anak tidak diterima. Padahal dalam penerimaan siswa baru tidak melalui tes.

“Jadi disini saya benar-benar kecewa kenapa anak saya bisa sampai tidak diterima, padahal sudah memenuhi syarat yang ada. Sedangkan anak yang dibawah umur 6 tahun bisa masuk melalui jalan belakang,” jelasnya.

Menanggapi hal tersebut, Kepala SDN 1 Tebing Tinggi, Nurjanah, SPd SD, menegaskan, bahwa tidak adanya kecurangan atau pun permainan dalam penerimaan peserta didik baru (PPDB) di SDN 1 Tebing Tinggi yang dilaksanakan pada hari Rabu tanggal 30 Mei 2018.

“Jadi untuk PPDB ini kita memang tidak melakukan tes, tetapi karena yang mendafatar melebihi kapasitas maka dilakukan seleksi berkas. Dimana calon peserta didik baru yang tidak memenuhi persayaratan maka kita nyatakan tidak lulus. Disisi anak dari Ibu Heni Gustina memang sudah dinyatakan tidak lulus pada saat pengumuman hari Kamis tanggal 31 Mei 2018 kemarin karena dari 128 anak yang kita nyatakan lulus tidak ada nama anak beliau, tetapi beliau datang kesekolah dan mempertanyakan ketidak lulusan anaknya,” jelas Nurjanah.

Sambungnya, pihak sekolah meminta Heni untuk membawa kembali akte kelahiran yang asli untuk diperiksa kembali, dimana saat dicek akte asli bahwa memang anaknya belum genap berumur 6 tahun.

“Jadi karena takut adanya kesalahan kita pihak sekolah meminta beliau untuk membawa akte kelahiran asli untuk dicek, dan setelah dicek memang anaknya belum berumur 6 tahun, sedangkan persayaratan utama peserta didik baru harus minimal 6 tahun. Hal ini karena ditakutkan pada saat mereka ujian kelas VI mendatang dan belum berumur 12 tahun maka, anak tidak akan mendapat nomor ujian karena tidak terbaca didapodik,” bebernya.

Untuk masalah uang seragam yang dikembalikan lanjutnya, itu adanya kesalahan komunikasi dari guru yang menerima uang seragam dengan guru yang mengurus kelulusan.

“Jadi untuk pengembalian uang itu hanya kesalahan komunikasi, dimana guru yang bertugas langsung menerima uang seragam tanpa konfirmasi, dimana dipikirnya bahwa anak tersebut sudah lulus karena wali murid sudah membayar seragam sekolah. Hal ini bertepatan dengan pengumuman dan pelepasan siswa siswi kelas VI pada hari Senin kemarin, karena memang sibuk sehingga tidak adanya konfirmasi mengenai penerimaan seragam. Setelah tau bahwa uang seragam sudah dibayar, otomatis kita pihak sekolah mengembalikan uang seragam yang telah diberikan,” pungkasnya. (Mg11)

BACA JUGA