Connect with us

Kabar Sumsel

Pasal Putus Cinta, Gantung diri di Pohon Jengkol

Published

on

GANTUNG DIRI : Korban ditemukan pihak kelurga gantung diri.

REL, Muara Enim – Diduga gara-gara putus cinta dengan sang pacar, Eprianto  (28), warga Dusun I, Desa Kahuripan Baru, Kecamatan Rambang Dangku, Muara Enim, nekat mengakhiri hidupnya dengan cara gantung diri menggunakan seutas tali nilon, yang diikatkan di pohon jengkol di kebun karet milik Alamsyah, warga Desa Kahuripan Baru, Kecamatan Rambang Dangku, Muara Enim.

Jenazah korban ditemukan tergantung di pohon jengkol oleh keluarganya yang telah melakukan pencarian pada  Selasa (23/10) sekitar pukul 23.00 WIB. Aksi bunuh diri itu merupakan yang kedua kalinya dilakukan korban sejak mengalami putus cinta.

Aksi bunuh diri yang pertama kali dilakukannya beberapa minggu sebelumnya dengan cara meminum racun rumput. Namun aksinya sempat ketahuan keluarganya dan dilarikan kerumah sakit umum Fadillah Kota Prabumulih. Korban sempat dirawat di rumah sakit itu selama 7 hari.

Informasi yang berhasil dihimpun menyebutkan, sejak mengalami putus cinta dengan pacarnya pembawaan korban selalu melamun. Pada hari kejadian itu, korban sempat membantu orang tuanya yang tengah melakukan hajatan di rumahnya.

Nah, sekitar pukul 14.00 WIB, korban menghilang dari rumahnya. Hingga sore hari korban tidak kunjung pulang. Lantas keluarganya curiga takut korban kembali berbuat nekat melakukan bunuh diri seperti kejadian sebelumnya.

Lantas keluargnya berupaya melakukan pencarian ke rumah kelurganya yang lain dan memberitahukannya bahwa korban belum pulang ke rumah. Lantas keluarganya beramai-ramai melakukan pencarian.

Upaya keluarganya melakukan pencarian membuahkan hasil. Menemukan tubuh korban sudah dalam posisi tergantung di batang pohon jengkol di kebun karet  milik  Alamsyah.

Pada saat ditemukan, kondisi leher korban dalam keadaan terjerat tali nilon yang diikatkan pada bagian dahan pohon jengkol dan Korban langsung diturunkan. Petugas Polsek Rambang Dangku, yang tiba dilokasi kejadian, sempat membawa jenazah korban ke Puskesmas setempat untuk dilakukan visum. Saat itu pihak keluarga  juga telah membuat surat pernyataan yang tidak bersedia jasad korban untuk dilakukan otopsi.

Orang tua korban bernama Imron, kepada petugas menjelaskan, bahwa seminggu sebelumnya anaknya juga telah berupaya melakukan percobaan bunuh diri dengan minum racun rumput. Namun kejadian itu sempat diketahui keluarga dan anaknya berhasil diselamatkan dengan dirawat di RSU Fadillah Kota Prabumulih selama 7 hari. “Korban bunuh diri dikarenakan putus cinta dengan pacarnya. Sehingga membuat korban putus asa  dan nekat melakukan gantung diri,” jelas orang tua korban kepada petugas.

Kapolres Muara Enim, AKBP Afner Juwono melakui Kabag Ops, Kompol Irwan Andeta, ketika dikonfirmasi kemarin (24/10) membenarkan kejadian itu. “Dari hasil pemeriksaan yang dilakukan dokter Puskesmas, bahwa korban meninggal murni gantung diri. Ditubuh korban tidak ditemukan tanda tanda bekas kekerasan,” jelasnya. (ozi)

 

Empat Lawang

Jubir Covid-19 Muratara Angkat Bicara, Kasus PDP di Muratara Masih Menunggu Hasil Lab

Published

on

Caption : Teks foto: Jubir GugusTugas Covid-19 Muratara Susyanto Tunut

 

REL,Muratara – Simpang siur pemberitaan Pasien Dalam Pengawasan (PDP) 01 Muratara, pihak Kabupaten Muratara belum menerima hasil laboratorium, baik dari Provinsi maupun dari pihak Rumah Sakit Siloam Lubuklinggau.

Hal tersebut di ungkapkan oleh Juru Bicara (Jubir) Gugus Tugas Covid-19 Muratara Susyan Tunut, sampai saat ini masih menunggu hasil pemeriksaan dari laboratorium Sumsel, dan terus upayakan agar hasil lab tersebut bisa segerah di publikasikan, apakah memang terjangkit atau tidaknya.

Juru bicara (Jubir) Gugus tugas Covid-19 menggadakan konferensi pers, terhadap berita yang beredar di metroTV tentang informasi yang di sampaikan oleh jubir Sumsel, terkait pemakaman PDP 01 yang ada di Muratara, dalam pemakamannya tidak sesuai dengan protokoler, karena bukan penolakan dari keluarga, melainkan gugus tugas Covid-19 Muratara tidak siap, berita tersebut tidak benar bahkan kebalikannya.

“Dari gugus tugas Covid-19 sudah menyiapkan mulai dari ambulans penjemputan sampai dengan pemakaman secara protokoler,”ujarnya, Kamis (16/4/2020)

Sambungnya, dan kita menyiapkan skenario penjemputan jenaza PDP 01 yang ada di rumah sakit Siloam Lubuklinggau, tiba-tiba di tengah perjalanan jenaza di pulang paksa oleh pihak keluarga untuk segerah di makamkan.

Untuk saat ini kita semuanya sepakat , untuk mengetahui jika seseorang memang betul-betul terjangkit Covid-19 atau tidaknya itu kita sedang menunggu hasil dari laboratorium provinsi dan hasil lab Rumah Sakit Siloam, kemudian di berikan kepada gugus tugas Covid-19 kota lubuklinggau, sebab merekala yang mengambil Sempel dari pasien tersebut, tambahnya

Ia menyebutkan, pihaknya menunggu hasil yang benar-benar murni, untuk kedepannya langkah apa saja yang nantinya akan ambil, jika hasil tersebut sudah di keluarkan.

“kita semua berharap dari hasil lab tersebut Negatif, dan tidak ada simpang siur masala pemberitaan di tengah-tengah masyarakat muratara, terkait Covid-19.(16)

Baca Selengkapnya

Kabar Sumsel

Kemenag Terapkan Pelayanan Tanpa Tatap Muka

Published

on

Teks foto:Kankemenag Muratara H Iksan Baijuri

 

 

Rel Muratara–Untuk menjaga dari terjangkit dan menyebar Corona Virus Disease (Covid-19) Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Musi Rawas Utara menerapkan pelayanan publik tanpa tatap muka langsung.

Alasan penerapan pelayanan tersebut tertuang dalam edaran Kemenag Muratara nomor 77 tahun 2020 tentang pelaksanaan protokol penanganan Covid-19 dan surat edaran Kantor Wilayah Kementetian Agama Propinsi Sumatera Selatan nomor 494 tahun 2020 pertanggal 26 Maret tentang pelayanan publik tanpa tatap muka.

Kankemenag Muratara H Ikhsan Baijuri mengatakan, ditengah hangatnya masalah Covid pelayanan publik di kantor kemenag dilakukan tanpa tatap muka.

“Nanti setiap pelayanan akan dilakukan melalui hand phone, whatshap dan surat elektronik,”katanya, Kamis (26/3)

Lanjutnya, pelayanan tanpa tatap muka akan berlansung dari tanggal 26 Maret hinggga 30 Maret atau menunggu perkembangan selanjutnya. Jika kondisi Covid sudah benar benar steril dari muka bumi, maka aktivitas akan seperti biasa.

Ia mengatakan, pelayanan tanpa tatap muka, sudah disampaikan surat edaran di setiap Kantor Urusan Agama (KUA) pada Tujuh Kecamatan dalam wilayah Muratara.

“Silakan nanti, Kepala KUA masing masing menyampaikan edaran ini pada setiap kepala desa, atau menyampaikan langsung kepada masyarakat,”ujarnya

Ditambahnya, bagi masyarakat yang ingin melakukan urusan dengan kemenag tidak parlu datang ke kantor, karena di surat edaran sudah di sediakan atau melalui surat elektronik atau email kabmuratara@kemenag.go.di. (16)

Baca Selengkapnya

Kabar Sumsel

Cegah Masuk Covid-19 di Muratara, Pemda Mendirikan Posko GTPP

Published

on

BERSAMA:Bupati, Sekda Foto bersama petugas posko GTPP

 

 

REL,Muratara – Guna Penanganan secara intensif, Pemerintah Kabupaten Musi Rawas Utara (Muratara) mendirikan dan meresmikan posko Gugus Tugas Percepatan Penanganan (GTPP) Corona Virus Disease (Covid-19) di perbatasan Kabupaten Surulangun Jambi, tepanya di simpang Nibung Rawas, Kecamatan Rawas Ulu, Muratara. Selasa (24/3)

Juru Bicara GTPP Kabupaten Muratara Siswanto Tunut menyampaikan pendirian dan peresmian posko ditengah hangatnya masalah Covid-19 tersebut adalah upaya pencegahan dari pemerintah.

“Ia, hari ini bersama Bupati, TNI, Polisi meresmikan dan mulai bergerak melakukan pengecekan secara menyeluruh pengendara yang masuk ke Kabupaten Muratara,”katanya

Sambungnya, terutama bagi pengendara yang datang dari jauh, jambi, batam. Dan orang tersebut singah, pulang kampung atau menginap di Kabupaten kita.

Ia menyebutkan, jika ada orang, warga atau pengendara yang kategori tidak aman, menunjukan suhu badan pada 38 keatas, maka yang bersangkutan masuk dalam Orang Dalam Pengawasan (ODP).

“Melalui rekan tim, Dinas kesehatan memantau secara berkalah yang masuk dalam ODP itu,”ujarnya

Kesempatan yang sama, Bupati Muratara H M Syarif Hidayat menyampaikan posko tersebut sebagai antisipasi Kabupaten Muratara, sebagai bentuk kepedulian pemda terhadap Covid-19.

“Posko ini adalah posko kemanusiaan. Kita harus ada tindakan yang tegas terhadap Covid-19. Ini bukan rahazia terhaadap surat menyurat kendaraan pengendara atau yang lain. Saya mintak yang melintas untuk membantu, berhenti dan turun untuk dilakukan pengecekan,”ajaknya

Lanjutnya, Posko GTPP akan berdiri dan melayani lebih kurang selama tiga bulan. kita pantau sampai kondisi di Muratara umumnya indonesia benar benar bersih dari Covid-19 ini.

Untuk diketahui, petugas pokso terdiri dari tim Kesehatan, BPDB, dibantu pihak kepolisian, Pol PP, Dishub dan TNI yang berjumlahkan sebanyak 33 orang. (16)

Baca Selengkapnya

Trending