oleh

Harus ke Desa Tetangga Untuk Daring

Harus ke Desa Tetangga Untuk Daring

REL, Empat Lawang – Setelah sempat diberitakan salah seorang mahasiswa dari Empat Lawang yang rela ke sawah untuk ikut kuliah daring, kini kisah unik menjalani sistem belajar daring juga dialami oleh mahasiswa lainnya.

Eva Halima Tusadia, mahasiswa baru di Universitas Bengkulu (UNIB) sekaligus putri asli Kabupaten Empat Lawang tepatnya di Desa Keban Jati Kecamatan Pasemah Air Keruh (Paiker) juga punya cerita unik perihal sistem belajar daring.

Diceritakan oleh Eva, sejak masa Pengenalan Kehidupan Kampus (PKK) UNIB sudah menerapkan belajar daring. Hal ini dikarenakan kondisi penyebaran Virus Corona yang semakin meningkat setiap harinya.

Lagi-lagi persoalan sama yang dihadapi oleh mahasiswa di Empat Lawang lainnya yakni soal sinyal yang lemah sehingga menyebabkan terkendalanya kuliah daring. Demi bisa ikut PKK, Eva harus wara wiri naik turun rumah tetangga untuk mencari posisi sinyal yang kuat.

“Au yuk PKKnye juge daring, ya itu tadi yuk kendalanye di sinyal padahal PKK hari pertame itu seru, sampai aku naik turun gumah acek an guma pemamak an cuman nak cari sinyal yuk. Nah pas lah dapat sinyal daring lah lancar tibe-tibe sinyal ilang di pertengahan acara, ya kulu kilir lagi ke dapur ke depan ke belakang guma cari sinyal lagi,” kata Eva kepada Rakyat Empat Lawang.

Tak jarang ketika sudah susah payah mencari sinyal namun tak dapat juga, akhirnya kuliah pun ditinggal makan hingga sampai ketiduran.

Lebih menantang lagi, ketika di tempatnya diterpa mati lampu ditambah lagi dengan hujan lebat. Sinyalpun mati total. Terkdang juga Eva bersama teman-temannya harus rela pergi ke sawah mencari sinyal, namun sesampainya di sawah ternyata sinyalpun tak ada.

“Jadi cuman pacak absen bae atau tuh izin same komti untuk dide ngikut kegiatan kuliah hari itu. Namenye juge di sawah yuk kadang ade kadang dide bie, kadang nyambung kadang dide, nikmatii bae lah walaupun tugas menunggu,” ucapnya.

Alternatif lainnya, Eva harus ke desa tetangga tepatnya ke Desa Lawang Agung untuk mendapatkan sinyal.

“Dari Keban Jati ke Lawang Agung ade jarak 2 dusun. Kalau pakai motor sekitar 10 menit sampai,” jelas Eva.

Eva berharap di tempatnya listrik bisa memadai. Bukan hanya mahasiswa saja yang pusing karena listrik mati tapi ibu-ibu juga pusing.

“Harapanye listrik memadai yuk, pecaknye sinyal di sini tergantung samo listrik,” harapnya. (Mg15)

BACA JUGA