oleh

Cipto Bertahan di Gubuk Menumpang

REL, Pagaralam – Kehidupan Cipto dan keluarganya sangatlah terbatas, dia bersama istri dan kedua anaknya tinggal di gubuk kecil seukuran 2 x 3 meter, berdiri menumpang diatas tanah milik warga lainnya di RT 03 RW 01 Dusung Mingkik Kelurahan Atung Bungsu Kecamatan Dempo Selatan Kota Pagaralam.

Cipto yang biasanya bekerja sebagai buruh harian lepas tak bisa berbuat banyak seperti layaknya orang disekitarnya. Ketika orang lain sibuk menambah isi rumah dengan barang mewah, dia justru harus bertahan hidup mengumpulkan uang yang hanya cukup untuk makan sehari hari. Bahkan, ironisnya di dalam rumah yang dihuninya tidak ada barang berharga sama sekali, yang ada hanya pakaian yang berhamburan, tikar, sebagai alas untuk tidur, dan bahkan untuk piring dan peralatan dapur pun tidak ada.

“Saya sudah tinggal beberapa tahun belakangan ini, saya punya tiga anak, satu sudah kerja, dua lagi masih disini. Anak saya yang bungsu masih kecil, dan selalu diajak bekerja. Kami dapat tinggal disini pun bersyukur sekali, yang penting tidak kepanasan dan kehujanan. Kalau barang berharga kami tidak punya, rumah ini terlihat kosong,” kata dia, Senin (8/1)

Lanjut Cipto, istrinya yang juga seorang buruh setiap hari harus bekerja. Hal itulah bagi mereka agar bisa menyambung kehidupan.

“Kami tidak punya rumah tetap, hanya gubuk inilah kepunyaan kami. Ini pun sudah darurat, dinding papan ditambal pelupuh, alas papan, dan bagian depan beratap daun ilalang. Untuk masak, istri saya menggunakan puntung kayu. Kalau malam gelap gulita, karena kami tidak punya listrik disini,” ujarnya.

Sementara itu, Narwan mertua Cipto mengungkapkan, bahwa kehidupan keluarga Cipto memang tidak menentu. Dia terkadang prihatin akan kehidupan anaknya yang serba kekurangan.

“Tempat tinggal Cipto sebenarnya tak layak lagi, bukan untuk ditempati orang. Tapi bagaimana lagi, dia ingin mandiri, tak mau memberatkan orang lain. Saya juga bukan orang yang serba ada, saya juga hidup sebagai buruh,” ungkapnya.

Narwan berharap, Cipto mendapatkan pekerjaan tetap agar kehidupannya lebih pasti. Dia kasihan dengan anaknya, yang jarang sekali berganti pakaian.

“Kalau dia ada pekerjaan, paling tidak bisa memperbaiki tempat tinggal, bisa membelikan anaknya pakaian. Bekerja sebagai buruh, tidak kerja, tidak makan. Kalau sakit, harus pinjam uang kemana mana,” tutur dia.(mg10)

BACA JUGA