oleh

Cari Sinyal, Mahasiswa Ini Rela Belajar di Tengah Sawah

Cari Sinyal, Mahasiswa Ini Rela Belajar di Tengah Sawah

REL, Empat Lawang – Selama pandemi ini, dunia pendidikan terpaksa menerapkan sistem belajar Dalam Jaringan (Daring). Belajar jarak jauh menjadi solusi untuk saat ini demi mencegah penyebaran Virus Corona.

Ada banyak kisah yang terjadi selama poses belajar daring, baik kisah yang dialami oleh tenaga pendidik maupun kisah yang dialami oleh peserta didik.

Terkhusus di Empat Lawang, belajar daring menjadi problematika. Hal ini dikarenakan tidak semua tempat terjangkau oleh sinyal, dan tidak semua orang mempunyai handphone. Sehingga tak jarang siswa ataupun mahasiswa yang lokasinya di desa terpencil harus berjuang mati-matian untuk bisa belajar daring.

Seperti halnya yang dirasakan oleh Muhammad Bagus dari Desa Tanjung Beringin Kecamatan Pasemah Air Keruh (Paiker) Kabupaten Empat Lawang.

Sejak pandemi melanda, UNIB menerapkan sistem belajar daring sehingga Muhammad Bagus dan mahasiswa lainnya berinisiatif untuk pulang kampung. Belajar Daring tak seindah yang dibayangkan, bukannya mudah malah susah.

Pasalnya, di desanya sering mati lampu dan itu mengakibatkan jaringan internet terganggu. Akhirnya Bagus harus membawa laptop dan peralatan kuliah lainnya ke tengah sawah untuk mencari sinyal. Malangnya, sudah jauh-jauh ke sawah, sinyal internet pun hanya dua batang. Namun, laki-laki yang memiliki jiwa humoris itu menanggapinya dengan santai, meski sebenarnya kuliahnya terhambat gara-gara sinyal lemah.

“Seru sekali, rasanya seperti anda menjadi Airon Men. Itu bae minta hotspot kek adik. Dua batang tu 3G,” kata Bagus kepada Rakyat Empat Lawang, Rabu (30/9).

Ketika kuliah melalui aplikasi zoom atau google meet, Bagus kerap keluar masuk aplikasi dan disangka bolos oleh Dosen. Bahkan Dosen pun tak percaya kalau setiap hari di tempatnya sering mati lampu.

“Susah untuk menemui titik stabil jaringan, laju pas kuliah 2 jam keluar masuk zoom, 2 menit sebelum absen sinyal tidak stabil ya dikira bolos sama Dosen. Dijelaskan sama Dosen dibilang alasan, masa tiap hari mati lampu. Padahal nyatanya seperti itu,” ucapnya.

Tak hanya berhenti di sinyal saja, tantangan Bagus kuliah Daring masih terus berlanjut. Laptop yang ia bawa ke sawah ternyata habis batre dan kondisinya sedang mati lampu. Lengkaplah sudah perjuangan.

“Kebanyakan alasan padam listrik kan karena pohon roboh, nah di situ harusnya ada tindakan penanggulangan sebelum terjadi. Kan lebih baik merawat daripada memperbaiki,” tutur Bagus.

Bagus menjelaskan, sudah dua hari terakhir listrik di tempatnya terus-terusan mati. Hal itu sangat mengganggu aktivitas kuliahnya. Disampaikan oleh Bagus, Mahasiswa sudah kesusahan dengan belajar dari rumah, dan ini harus ditambah lagi dengan keseringan mati lampu.

“Listrik padam terus akhir-akhir ini. Ada yang bisa beri alasan? PLN, Pemerintah? Tolong! kami sudah kesulitan menuntut ilmu dari rumah! Jangan ditambah kendala lagi. Kuliah, belajar, ujian kami sangat terganggu Banyak keluh kesah Mahasiswa yang terkendala dengan keadaan,” tegas Bagus.

Mewakili Mahasiswa lainnya, Bagus berharap pihak terkait bisa cepat tanggap menanggulangi masalah kelistrikan.

“Ya kalau ada yang rusak atau konslet segera diperbaiki lah, jangan terlalu lama dibiarkan. Dan dilakukan pengecekan keamanan arus agar meminimalisir kerusakan yang tak terkira, seperti memotong ranting-ranting yang sudah mengenai kabel PLN gitu,” harapnya. (Mg15)

BACA JUGA