oleh

BMKG Sebut Sumsel Mulai Masuki Kemarau

REL, Palembang – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun SMB II Palembang menyebut Sumatera Selatan telah memasuki musim kemarau di mana secara meterologi ditandai dengan aktifnya Angin Muson Timur (Australia) dengan indikasi arah angin permukaan yang terjadi umumnya dari tenggara, minimnya pasokan uap air dan kecepatan angin lapisan atas yang tinggi sehingga menghambat pertumbuhan awan.

Akibatnya temperatur udara akan terasa menjadi lebih gerah. Secara normal di Sumsel curah hujan dan dan kelembapan akan menurun hingga puncak minimum pada Bulan Agustus dan September.

Kepala Seksi Observasi dan Informasi Stasiun Meteorologi SMB II Palembang, Bambang Benny Setiaji, mengatakan meski seiring aktifnya aktifitas di Samudera Pasifik yakni El Nino, namun potensi suhu masih kategori normal dan tidak terlalu panas.

“Normalnya suhu tertinggi sekitar 35 derajat celcius dan tidak pernah lebih tinggi dari itu, biasanya rata-rata suhu 27 – 28 derajat celcius,” ujar Bambang Benny Setiaji ketika dikonfirmasi, Rabu (8/5/2019).

Pihaknya memprediksi musim kemarau mulai terjadi di Sumsel pada pertengahan Mei dengan prediksi puncaknya pada Juli sampai Agustus, di mana cuaca kering terjadi dalam kurun waktu lama serta tingkat hujan akan sangat rendah.

“Seiring aktifnya aktifitas di Samudera Pasifik yakni El Nino dan diperkirakan berpotensi hingga akhir Tahun 2019 akan menyebabkan minimnya pasokan uap air di wilayah Indonesia dan Indonesia bagian timur khususnya,” sambung Benny

Walaupun secara Global tidak hanya El Nino yang mempengaruhi kondisi cuaca di Sumsel misalnya adanya Osilasi Madden Jullian (MJO/ Madden Jullian Oscillation) dan Dipol Samudera Hindia (IOD/Indian Ocean Dipole) yang juga bisa menyebabkan potensi terjadinya hujan.

Namun masyarakat diminta tidak khawatir karena El Nino bukan pengaruh utama iklim di Sumsel, pengaruh dominan justru dari aktifitas meteorologi di Samudera Hindia. Masyarakat diminta perbanyak minum air putih untuk menghindari dehidrasi selama beraktifitas di siang hari.

“Sekarang terjadi dominasi tekanan rendah dari Samudera Hindia, artinya masih ada potensi hujan pada malam hari di wilayah Sumsel,” jelasnya. (*)

BACA JUGA