oleh

Bayar Nazar, Mandi Darah Kerbau

SUNGGUH unik yang dilakukan oleh Hj Marhana warga desa Pauh I Kecamatan Rawas Ilir, Kabupaten Muratara. Pasalnya hal ini sangat jarang dilakukan oleh semua orang, ketika anaknya atau cucuknya selesai menempuh jenjang pendidikan diperguruan tinggi atau menyandang gelar sarjana maka sebagai nazarnya dimandiin dengan darah kerbau.

Seperti yang dilakukan oleh Hj Marhana (70) mandiin darah kerbau ini sudah diperlakukan terhadap ketiga orang anaknya dan dua orang cucuknya yang berhasil menyandang gelar sarjana.
Mandi dengan darah kerbau sudah lama dilakukan baik terhadap ketiga orang anaknya maupun tiga orang cucuknya.

“Jadi ketika baik anak maupun cucuknya sebelum keluar dari rumah yang ingin melanjutkan sekolah sampai kejenjang perguruan tinggi ketika mereka selesai maka nazarnya akan dimandiin dengan darah kerbau,” katanya.

Sambungnya, kerbau itupun milik kami sendiri dan kerbau peliharaannya ketika ada yang sekolah, maka dengan cepat berkembang biar dari sejak dulu.

“Ketika ada yang ingin sekolah sebelum keluar dari rumah, maka kami bernazar setelah mereka berhasil menyandang gelar sarjana akan dimandiin dengan darah kerbau,” jelasnya.

Dengan wajah yang sedih dia mengatakan sebenarnya yang bernazar itu adalah suaminya Jipri yang sekarang sudah alm, jadi kami ini hanya membayarnya saja karena itu sudah dianggap hutang.

“Sebenarnya Alm suami awak yang bernazar itu, namun karena beliau sudah tidak ada maka kami yang membayarnya,” kata Marhana.

Ditempat yang sama Riki mengatakan ini merupakan tradisi dalam keluarga kami, ketika selesai menginyam pendidikan diperguruan tinggi maka dimandiin dengan darah kerbau.

“Ya, sudah menjadi tradisi, sebab bukan aku bae yang dimandiin dengan darah kerbau sebelumnyo ado tigo ikok mamang dan jugo kakak dengan ayuk aku dimandiin dengan darah kerbau,” ucapnya.

Ketika ditanya bagaimana rasanya mandi darah kerbau, ? Riki menjelaskan kalau rasa dibadan terasah hanya dan sangat berbedah dengan mandi dengan air biasa. Selain itu, lanjut dia sangat anyir dan ingin muntah karena tidak tahan dengan bauk darah.

“Sejujurnyo kak ingin muntah mencium bauk darah dan kalau mandi darah sangat lemak karena badan segar usai mandi,” pungkasnya.

Cerminkan Kearifan Lokal

MASIH adanya tradisi mandi darah di Kecamatan Rasa Ilir diakui Arjuna, anggota DPRD Muratara. ‘’Tradisi ini bentuk syukuran yang dilakukan masyarakat atas keberhasilan anak-anak mereka,’’ ujarnya.

Diakui, di Rawas Ilir banyak warga yang beternak kerbau. ‘’Saat anak-anak mereka tamat pendidikan, mereka biasanya bernazar potong kerbau. Darah ternak itu dimandikan ke si anak dan dagingnya dimasak untuk dimakan bersama warga satu kampung,’’ ungkapnya.

Pihaknya berharap, tradisi itu bisa terus dilestarikan sehingga kebudayaan itu tetap menjadi kekayaan yang mencerminkan kearifan lokal di wilayah Muratara. ‘’Harapannya ya bisa terus dilestarikan, karena itu mencerminkan kebudayaan yang berkembang di wilayah kita,” tutupnya. (*)

BACA JUGA